Showing posts with label #Cerpen. Show all posts
Showing posts with label #Cerpen. Show all posts

Cerpen: Peri Biru

      "Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Tanya gue ke Mesya sambil dagdigdug daia. Terus keluar om badut belang. #lhoMalahIklanDetergen.
      "Enggak mau." Jawab Mesya dengan muka takut.
      Dengan pedenya gue bilang, "Aku terlalu baik buat kamu ya?"
      "Bukan bego, tuh temen lo om-om belang nakutin gue. Kalo gue jadian sama lo, tar gue harus ketemu om belang itu terus. OGAH!!!"
      Anjir nih om daia sejak kapan ada dibelakang gue. Kalo misalkan ada setan muncul di belakang Mesya bakal ketakutan juga, nunjuk sambil bilang, "Ada om belang!" Terus setannya pingsan.
      Dan pada akhirnya gue ditolak gara-gara om daia. Kalo dibilang sakit hati, ya sakit. Jadi intinya, kalo lo mau nembak, hati-hati ada om daia. Waspadalah,, waspadalah!!
      Sebelum sama Meysa gue juga sering ditolak, dan alesannya macem-macem, kaya "kamu cowo aku cewe, kita gak cocok." Sampai "Kamu terlalu jelek buat aku, nggak bisa diajak kondangan!"
      Gue jomblo udah lama. Kalo lo ngeredit motor dengan angsuran termurah, mungkin udah dapet dua. Pokoknya lama dah. Terlalu lama sendiri pokoknya.
      Mungkin gue flashback ke Mesya dulu kali ya. Oh iya nama gue Arif asli Bandung. Gue ikut acara ini, biar gue bisa memperkenalkan Bandung ke dunia. Di Bandung itu keren, ada Taman Jomblo. Gue sering banget ke sana biar bisa ketemu cewe cantik yang jomblo juga. Pokoknya TOP dah walikotanya. Bandung juga tempat wisatanya keren-keren. Gue paling suka ke kawah putih. Malah dari pertama gue kesana gue berencana mau prewedding di sana. Sama siapa? Entahlah. #Lho ko gue malah ngomongin Bandung ya. Acara apa sih ini.
      Mesya ini temen kuliah gue, Gue kuliah di universitas swasta di Bandung, dia di universitas swasta di jogja. Lho ko temen kuliah? Iyalah orang dia pindah ke kampus gue. Dia sama gue beda fakultas. Gue ngambil sastra inggris dan dia di sastra indonesia. Tapi gue anggota BEM jadi gue bisa mampir sana sini. Gue tanya sama temen gue, Rena yang sekelas sama dia.
      "Ren, itu siapa sih yang cantik? Baru liat gue!" Tanya gue sambil bisik-bisik.
      "Oh si Mesya! Lo suka? Gue ada pin bbmnya nih!" Kata Rena. "Wah peluang nih!" Kata gue dalem hati.
      "Emang menurut lo gue mau minta pin bbmnya?" Tanya gue ke Rena dengan tatapan serius.
      "Jadi lo gak mau?"
      "Ya maulah,, hahahaha!" Jawab gue.
      "Dasar stres lo rif, nih!" Kata Rena kesel sambil ngasih pin bbmnya.
      Akhirnya pin bbmnya gue invite, dan gak berapa lama dia accept. Setelah itu gue sengaja gak bbm dia duluan. Gue jual mahal? Bukan. Gue cuma nggak berani. Setelah beberapa hari dia bbm gue duluan.
      "Kayanya kenal deh?" Bbm mesya.
      "Siapa hayooo???" Bales gue sambil nutupin mata gue kaya di iklan gitu.
      "Lho kok mata kamu ditutupin sih?" Tanya Mesya.
      "Lha kok kamu tau, kan kita cuma bbman doang!" Tanya gue heran.
      "Lha, udah tau bbman kenapa pake nutupin mata segala!"
      "Oh iya juga ya. Oke sekarang mulai dari awal aja ya. Kita sebelumnya belum kenal kan!" Kata gue mulai gila.
      "Lha kamu malah maen sulap. Udahan ah bbmannya, aku kan lagi dibelakang kamu!"
      Gue kaget, gue liat ke belakang tapi nggak ada siapa-siapa. Gue langsung bales bbmnya, "Di belakang aku nggak ada siapa-siapa nih!"
      "Lha berarti aku lagi dibelakangnya siapa?" Tanya Mesya mulai panik.
      Ternyata Mesya ada di depan gue. Gue langsung tepuk pundaknya.
      "Hei!"
      Mesya langsung nengok ke belakang, "Lho kok kamu ada di belakang aku! Yang di depan aku siapa?"
      Gue liat di depan dia ngak ada siapa-siapa. Akhirnya kita pergi ke kantin kampus untuk ngobrol-ngobrol. Akhirnya makin lama kita makin deket. Gue sering pergi sama dia. Nonton bareng maupun ke tempat-tempat wisata. Dan akhirnya gue tau dia itu ternyata agak posesif. Waktu itu gue lagi jalan-jalan sore. Hape gue bunyi, ternyata telpon dari Mesya.
      "Kamu lagi di mana? sama siapa?" Kata Mesya sambil ngomel di telpon.
      "Lha kan aku lagi di taman sama kamu!" Jawab gue agak bingung.
      "Oh iyaya aku lupa!"
      Ya walaupun gitu gue tetep bertahan sama dia, soalnya gue udah terlanjur sayang. Banyak yg bilang hal-hal negatif tentang dia, tapi tetep gue nggak pernah peduli. Namanya kan cinta ya harus terima apa adanya kan?
      Tapi semakin hari dia mulai menghilang perlahan. Iya, semua menghilang.
      Gue menjalani hari-hari seperti biasa. Selalu terlihat ceria walau hati terluka. Iya inilah manusia, kita melihatnya seperti biasa saja, seperti tidak ada apa-apa. Padahal kita nggak tau apa yang telah terjadi dibalik senyuman seseorang. Selalu ada rahasia dibalik sebuah senyuman.
      Gue memulai kehidupan gue kembali. Mencoba mengobati sebuah luka yang mengiris cukup dalam. Semakin hari gue semakin lupa akan rasa sakit itu.
      Gue datang ke kampus lebih awal. Gue hanya duduk termenung di kursi depan paling pojok kanan.
      "Lo kenapa Rif?" Tanya seseorang yang tanpa gue sadari udah duduk di samping gue.
      "Eh Septi, ngak apa-apa kok!" Jawab gue masih setengah kaget. Septi ini temen sekelas gue dikampus. Orangnya manis dan cantik juga sih kalo dipikir-pikir, tapi sayangnya gue males mikirnya. Eh gak ding, dia beneran cantik kok. Dan bawel banget orangnya. Rambutnya ngak ada, tapi bukan botak, orang dia pake kerudung.
      "Ah masa, gue udah lima menit loh di sini. Dan lo tetep aja nggak sadar kalo gue ada di samping lo. Lagi mikirin gue yak?" Tanya Septi sambil nyengir.
      "Ah iya nih, tau aja lo!" Jawab gue dengan tatapan serius sambil pencet idungnya dengan gemes.
      "Ikh syurif ikh!.." kata dia manja sambil cubit tangan gue.
      "Nama gue Arif, bukan Syurif tau!"
      "Biarin,, wleee!" Kata dia sambil melet.
      Gue sering ketawa-ketawa bareng sama dia. Semuanya terasa lucu, sampe-sampe gue lupa sama masalah yang gue hadapin. Kalo gue sama dia rasanya beda aja. Lebih terasa nyaman, dia kadang juga marah-marah nggak jelas.
      Suatu hari di kelas gue ngobrol berdua sama dia. "Itu muka lo kenapa?" Tanya gue iseng.
      Dengan muka panik dia bilang, "Kenapa emangnya?"
      "Ko Cantik sih!" Kata gue dengan tatapan serius,,
      "Ikhhh..." Kata dia sambil senyum-senyum najis. Gue tarik aja bibirnya dengan gemes. Dia ngeliat ke arah pensil dan buku yang gue taruh di meja, sengaja gue sering gambar-gambar gak jelas gitu. "Itu pensil udah kecil gitu kenapa gak dibuang aja sih rif?"
      Gue megang pensilnya, "Ini? Sayang tau masih bisa dipake!"
      Dia agak shock dengan jawaban gue, terus lanjut ngedumel, "Sama pensil aja sayang, sama gue enggak!"
      "Deg,," Kata hati gue, "Apa?" jawab gue pura-pura ngak denger.
      "Ngak apa-apa kok!" Jawabnya sambil masang muka ngak apa-apanya. Tapi akhirnya gue sadar, gue suka sama dia. Dia yang bikin gue bisa lupain semuanya. Dengan canda tawanya yang bawel itu. Dengan pura-pura marahnya. Gue seneng kalo deket dia. Pokok i love her. "Eh gelang lo bagus, warna biru lagi" Kata dia lagi sambil megang gelang gue. "Buat guelah, kan gue suka warna biru."
      "Gue juga suka!" Kata gue sambil senyum najis mandangin wajah dia.
      "Suka warna biru apa gelangnya?" Tanyanya.
      "Suka sama lo!" Jawab gue sambil tetep mandangin wajahnya.
      "Ikh, ngeliatnya jangan gitu kek!" Kata dia protes ngeliat muka gue yang sok imut. "Nanti suka beneran loh!"
      "Kalo beneran gimana?" Tanya gue serius.
      Dia diem sebentar. "Kok kalo suka nggak nembak-nembak sih!" sekarang gue yang giliran diem. "Kok diem, emang beneran suka sama aku?" Tanya dia penasaran, disangka gue lagi becanda.
      "Iya." Jawab gue singkat dengan pandangan datar.
      "Tapi, aku udah punya cowo!" Jawab dia mulai sadar kalo gue beneran suka sama dia.
      "Maaf ya aku nggak tau!" Jawab gue lesu, karena kembali ngerasain rasa sakit yang pernah ada. Dan tanpa sadar kata gue dan lo berubah jadi aku dan kamu.
      "Kirain aku, kamu udah tau!" Dia diem sebentar. Kini pandangannya beda berubah jadi serius. "Tapi kita masih temenan kan?" Tanya dia yang mungkin nggak mau kita yang tadinya sering bercanda jadi diem-dieman.
      "Iya." Jawab gue singkat sambil tetep senyum maksa. Akhirnya hari itu menjadi hari canggung. Gue lebih banyak diem.
      Malem hari, gue duduk termenung di halaman. Menatap ke atas, sambil menjerit dalam hati, "Kenapa sih sama gue, kenapa disaat gue bener-bener sayang sama cewek, tapi akhirnya malah kaya gini. Ada apa dengan hidup gue. Apa status jomblo ini nggak bisa lepas dari gue? Kenapa?" kemudian gue kembali menatap langit, gue melihat bintang yang indah. Walaupun bintang itu terlihat. Ia tidak akan bisa gue miliki. Akhirnya gue teringat kembali akan seorang peri yang menyukai warna biru yang selalu bisa buat gue tertawa bahagia. Septi. Dialah seorang peri biru yang seperti bintang di langit. Yang sampai kapanpun nggak akan bisa gue miliki. Tapi sampai kapanpun dia akan menjadi seorang peri biru cantik dihidup gue. Gue sayang dia.
      Gue masuk kedalam rumah, mengambil secarik kertas dan pinsil. Dan tanpa sadar sambil melamunkan Septi, jari-jari gue mulai menulis.

Melihat indah senyumanmu
Membuatku tergila-gila
Mendengar indah suaramu
Membuatku mabuk kepayang

Ketika jauh darimu
Aku sungguh merindu
Akankah kau jadi milikku
Ataukah hanya anganku

Kau seperti bintang di langit
Yang tak dapat aku raih
Karna kau bukanlah milikku

Kau peri biru di mimpiku
Kan slalu aku cintai
Meski kau bukanlah untukku
Kau kan slalu ada di hatiku

      Akhirnya kata-kata itu gue buat jadi lagu. Gue kirim ke Septi dan sejak saat itu gue bilang mau panggil dia peri biru. Dan dia juga nggak keberatan. "Lagunya bagus nggak?" Tanya gue lewat messager.
      "Bagus kok, tapi kalo lebih bagus kalo nyanyinya duet sama aku,hehe!" Balesnya, yang mungkin dalam arti sebenarnya. Lagunya bagus, cuma suara lo jelek. Dan maksudnya duet, gue maen gitar dia yang nyanyi. Iya emamg suara gue jelek. Gue bisanya maen gitar, makanya kalo ngeband gue jadi bassist #Lho.
      Sejak saat itu gue dan Septi jadi deket, iya walaupun cuma temen. Tapi hati gue bakanlah tetep sayang sama dia. It's true love.

Cerpen: Rahasia Senja





            “Hoammmzzzz, jam berapa ini?” Kata gue, yang baru saja bangun dari tidur siang. Gue coba lihat jam dinding yang ada di kamar gue. “Anjriittt, udah jam 4! Gue kan ada janji jam 5, sore ini, di Taman, samping stasiun!”
            Gue janjian sama pacar gue, Syila. Hari ini, 20 November, kita mau ngerayain hari jadian kita yang pertama.
            Gue buru-buru bangkit dari tempat tidur. Langsung masuk ke kamar mandi, dan siap-siap berangkat. Tiba-tiba hape gue berbunyi. Tanda ada telepon masuk.
            “Halo!! Kenapa Yank? Kamu udah sampe?” Tanya gue agak khawatir, karena jam baru menunjukkan jam setengah 5. Masa dia sudah sampai.
            “Eh hmm iya halo! Hmm maaf ya sayang, hari ini aku gak bisa dateng, soalnya mamah aku ngajak ke  puncak. Gak tau nih ngedadak banget!” Jelas Syila.
            “Oh iya, gak apa-apa! Hati-hati ya sayang!” Jawab gue memaklumi.
            Walaupun hari ini gue gak jadi ketemuan, gue tetep pergi ke Taman itu. Hanya untuk melepaskan penat setelah beberapa hari kemarin bekerja dan kuliah.
            Gue berjalan menuju sana, karena taman itu tidak terlalu jauh dari rumah. Tapi setelah mendekati taman, gue melihat ada sesuatu yang aneh. Gue melihat cewe dan cowo sedang duduk di bangku taman menikmati sore itu. Tapi gue udah gak asing lagi dengan cewe itu, gue coba dekati.
            “Syilaaa!!!” Ucap gue kaget.
            “Siapa ini Yank?” Kata cowo itu ikutan kaget.
            “Hmm..” Hanya kata itu yang terucap oleh Syila.
            “Syila, coba kamu jelaskan?” Kata gue mulai kesal.
            “Oke, aku jelasin semuanya!” Jawab Syila mulai mengeluarkan suaranya, “Ini Joni, pacarku!” Kata syila lagi sambil memperkenalkan cowo itu.
            “Tapi, bukankah kita ini…” Belum selesai gue ngomong, tapi Syila sudah memotongnya.
            “Pacaran?” Jawab Syila. “Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kuliahmu Ham! Sedangkan waktu untuk aku mana? Aku ini cewe Ham, cewe! Aku butuh perhatian. Tapi selama kamu sibuk, ada Joni yang perhatian sama aku, aku lebih nyaman sama Joni, Ham!” Jelas Syila.
            “Iya, aku tau Syil, aku kurang perhatian. Tapi semua itu untuk masa depan kita. Kamu tau kan aku ini dari orang biasa-biasa saja.” Jawab gue, “Tapi kalau kamu lebih nyaman dengan Joni, aku rela Syil!” Lanjut gue.
            “Hmm,, maafin aku Ham!” Jawab Syila sambil nangis, dan Joni mengusap airmatanya.
            “Ayo Yank kita pergi!” Kata Joni mengajak Syila pergi.
            Syila dan Joni mulai pergi, dan makin lama makin jauh. Orang-orang di Taman pun mulai pulang, karena sebentar lagi waktu akan malam. Sekarang tinggal gue sendiri. Duduk di kursi taman. Hanya di Temani mentari senja.
            “Cindy!!” Tiba-tiba gue inget seseorang yang pernah ada dalam hidup gue.
            Awal pertemuan gue dan Cindy, adalah di Taman ini, saat senja. Gue yang berusia sekitar 4 tahun, sedang bermain di Taman bersama nyokap gue.
            “Rani..” Panggil ibu-ibu bersama anak perempuannya yang kira-kira seumuran dengan gue.
            “Eh Bu Romlah! Sama anaknya juga ya?” Jawab nyokap.
            “Eh aku kira siapa tadi, ternyata kamu Ran! Udah lama kita gak ketemu, makin cantik aja kamu!” Kata Tante Romlah. “Eh siapa ini? Ganteng sekali!” Lanjutnya sambil ngusap kepala gue.
            “Ilham.” Jawab gue malu-malu.
            “Oh ini anak tante, namanya Cindy” Kata Tante Romlah, “Cindy, kamu main dulu geh sama Ilham, Mamah mau ngobrol dulu sama tante Rani, udah lama gak ketemu, sejak lulus SMA dulu!” Lanjutnya ke Cindy.
            “Iya mah!” Jawab Cindy. “Ayo Ham, kita main, hmm main apa ya? Ayunan aja yuk? Mau gak?” Ajak Cindy sambil narik tangan gue.
            Tanpa gue bilang setuju, Cindy langsung bawa gue ke ayunan yang ada di Taman itu. Selama bermain, Cindy bercerita banyak tentang dirinya, tentang rumahnya di Surabaya, tentang teman-temannya di sana. Dan tentang kepindahannya ke Jakarta.
            Hari semakin larut, akhirnya kita harus pulang. Gue dan Cindy berjanji besok, lusa dan seterusnya kita akan selalu bermain di Taman ini.
            Keesokan harinya, seperti biasa gue pergi sekolah di temani nyokap gue. Gue sekolah di TK Cahaya Kasih. Tapi hari itu terasa berbeda ketika tiba-tiba Ibu Guru berbicara.
            “Selamat pagi anak-anak!” Sapa Bu Leni pagi itu.
            “Pagi Bu…” Gue dan anak-anak yang lain menjawab.
            “Hari ini kita kedatangan murid baru, dari Surabaya!” Kata Bu Leni lagi.
            “Surabaya?” Tanya gue dalam hati.
            “Cindy, ayo masuk!” Ajak Bu Leni kepada Cindy.
            “Cindy?” Lagi-lagi tanya gue dalam hati.
            “Iya Bu!” Jawab Cindy.
            Ternyata apa yang gue fikirkan benar, Ia dia adalah Cindy yang senja kemarin bermain bersama gue.
            “Kamu duduk di sebelah Ilham ya!” Seru Bu Leni kepada Cindy.
            “Hai Ham, ternyata kita satu sekolah ya!” Sapa Cindy ke gue.
            “Iya, sekarang kita bisa jadi sering bertemu, dan bermain bersama!” Jawab gue senang.
            Setiap hari gue dan Cindy semakin dekat, hingga SD, SMP, dan SMA pun kita satu sekolah dan satu kelas. Hingga ketika kelas 2 SMA. Gue sadar, ternyata gue punya perasaan yang lebih kepada Cindy. Iya, gue sayang dan cinta sama dia. Tapi apakan dia juga mempunyai perasaan yang sama? Mungkin gue harus menyatakannya, nanti sore, di tempat biasa kita ketemu, Taman.
            Sore itu gue bergegas ke Taman itu. Ternyata Cindy sudah berada di sana menunggu gue.
            “Cindy…!!!” Teriak gue.
            “Eh, kamu udah datang Ham. Aku udah nunggu kamu dari tadi!” Jelas Cindy.
            “Eh iya maaf! Cie yang nungguin aku! Kangen ya?” Ejek gue.
            “Iya nih!” Jawab Cindy malu-malu, dan wajahnya memerah, sambil senyum-senyum, dan kelihatan cantik sekali.
            “Oh iya Cin, aku boleh ngomong sesuatu gak?” Tanya gue.
            “Ngomong apa Ham, kok serius banget?” Tanya Cindy bingung.
            “Hmm, sebenarnya aku merasa nyaman banget kalo ada di dekat kamu. Aku tuh selalu bahagia kalo dekat kamu. Aku sayang kamu Cin. Aku Cinta kamu!” Kata gue terus terang.
            “Aku udah lama menunggu saat-saat seperti ini Ham. Jujur aku juga sayang kamu Ham. Aku juga cinta kamu!” Jawab Cindy sambil memeluk gue.
            “I Love You Cin!” Kata gue sambil memeluk Cindy.
            “Kamu jangan tinggalin aku ya Ham!”
            “Iya Sayang!”
            Hari-hari selalu kita jalani berdua. Kita semakin dekat. Tapi dua tahun kemudian. Kita lulus sekolah, tapi Cindy di suruh orang tuanya, untuk melanjutkan Kuliahnya di London, Inggris. Karena ayahnya Cindy akan bertugas di sana. Jadi Cindy dan keluarganya harus tinggal di sana. Satu hari sebelum pergi, Cindy mengajak untuk bertemu di Taman biasanya.
            “Ham, maafin aku ya! Aku harus pergi!” Kata Cindy.
            “Jujur ya Cin, sebenarnya aku gak rela kamu pergi. Tapi mungkin ini udah jalan takdir kita!” Jawab gue pasrah.
            “I Love You Ham!” Kata Cindy sambil memeluk gue.
            “Apakah nanti kita akan bertemu lagi?” Tanya gue.
            “Aku janji Ham, suatu saat pasti kita akan bertemu lagi!”
            6 tahun berlalu, tapi sampai hari ini Cindy tak pernah kembali, gue kangen dia. Mana janjinya dulu. Apakah gue dan Cindy tak akan bertemu lagi?
            “Ilhaaammmm….” Tiba-tiba suara dari belakang menyadarkan lamunan gue.
            “Cindy?” Kata gue reflek, sambil menengok kearah belakang.
            “Eh tante Romlah! Kapan kembali ke Indonesia?” Tanya gue kaget.
            “Kemarin sore Ham!”
            “Cindy mana tante?” Tanya gue.
            “Cindy katanya gak mau kembali ke Indonesia, dia betah di sana Ham!”
            “Hah, jadi Cindy gak kembali tante?” Tanya gue sedih.
            “Iya, jangan sedih ya. Eh tante punya oleh-oleh dari London buat kamu. Ayo ke rumah tante!”
            Gue dan tante Romlah menuju rumahnya. Dirumahnya kelihatan sepi sekali.
“Nanti ya, tante ambilkan dulu, kamu tunggu aja di sini, sambil nonton TV.”
“Iya tante.”
Gak lama ada yang turun dari arah lantai dua. Gue kira hanya tante Romlah. Tapi ternyata.
“Ilham?” Kata suara yang udah gak asing lagi.
Gue nengok kebelakang. “Cindy!” Jawab gue kaget.
“Iya Ham ini aku!” Kata Cindy sambil menghampiri gue, “Aku rindu kamu Ham!” Kata Cindy lagi sambil memeluk gue.
“Aku Juga Cin!”
Akhirnya gue dan Cindy bisa bersatu kembali. Dan kita memutuskan untuk menikah. Kita dikaruniai dua orang anak. Satu laki-laki dan satu perempuan. Kita beri nama, Rudi dan Senja. Rudi berumur 10 tahun, dan Senja berumur 7 tahun.


Sumber Gambar: deewiput.blogspot.com/2013/06/sepotong-senja-untuk-si-pengagum-rahasia.html?m=1

Cerpen: Cinta Terlarang


Ini kisah gue dengan cinta. Eh ini bukan tentang Cinta di film AADC lho. Nama gue Rangga, nama panggilan gue Tyo. Lho kok Tyo? Iya nama panjang gue adalah Rangga Setyo. Kenapa gue pilih Tyo bukan Rangga. Karena nanti cerita ini jadi gini. Oh iya coba tambah backsound biar lebih dramatis. Gue di sini pake backsound Ayat-Ayat Cinta. Lho kok lagu itu? Iya soalnya gue cuma punya lagu itu,hehehe..
Gue : Rika, ini sudah terlalu.
Eh maaf-maaf salah cerita. Ini gara-gara nyokap gue abis nonton film Rhoma Irama. Oke langsung aja ceritanya.
Gue : Cinta, maaf aku harus pergi.
Cinta : Rangga. Jangan tinggalkan aku di sini.
Gue : Kenapa Cinta?
Cinta : Di sini hujan, becek, nggak ada ojek Rangga.
Gue : Lho lo siapa?
Cinta : Aku Cinta Laura.
Eh ini cerita apa sih. Udah ah lanjutin cerita gue lagi. Gue udah lama jomblo. Tapi banyak kejadian yang memojokan jomblo. Seperti Jakarta banjir karena banyaknya Jomblo yang minta hujan di malam minggu. Itu nggak coy. Nggak salah lagi maksud gue,hehehe. Oke, gue mau klarifikasi, awalnya kaum kita (jomblo) nggak pernah minta hujan di malam minggu. Awalnya kita cuma minta malam minggu ditiadakan. Doa kita memang dikabulkan, malam minggu tidak ada, tapi sebagai gantinya diganti menjadi sabtu malam. Ya sama aja. Karena kita frustasi kita minta hujan aja deh, hihihihi.
Katanya jomblo itu jauh dari maksiat. Itu bohong banget. Jangankan maksiat, paksiatpun deket sama gue. Eh bukan deket juga sih. Emang guenya aja yang ngedeketin mereka, biar gue bayar kos agak telat nggak diomelin. Lagian anak mereka, Deksiat itu cantik banget. Kalo boleh gue pacarin dah. Tapi sayang anaknya masih umur 3 tahun. Emang gue syeh *sensor* apa? Tapi kalo dia seumuran gue juga, belum tentu mau sama gue.
Halah gue kok dari tadi cerita nggak jelas terus ya. Okelah mulai cerita dari awal aja. Masalah Pak Siat dan Mak Siat dikebelakangkan dulu. Soalnya gue mau cerita dari gue SMA. Gue SMA di SMAN 78 Jakarta (nama sekolah disamarkan). Gue punya sahabat dari TK namanya Roni.
“Yo, kok udah ampir dua tahun kita sekolah di sini tapi lo masih belum punya cewe juga?” Tanya Roni bingung sambil megang-megang kepala sok mikir.
“Sebenernya gue udah ngincer si Dinda Ron dari kelas satu.” Jawab gue sambil ngebayangin senyuman Dinda.
“Dinda yang anak guru Sejarah killer itu Yo?” Tanya Roni Kaget. “Gila lo Yo, mau cari mati lo?” Lanjutnya.
“Bukan, ituloh yang anak IPA.” Jawab gue menyangkal. “Sotoy lo mah Ron.” Kata gue lagi sambil noyor kepalanya.
“Lha kan gue nggak tau Yo, lo juga nggak pernah cerita. Eh tapi kayanya kemaren dia udah jadian sama Budi anak basket itu deh.” Kata Roni yang bikin gue patah hati.
“Ah masa Ron?” Jawab gue dengan nada lesu.
“Eh tapi lo jangan sedih dulu, gue punya ide.” Kata Roni yang bikin hati gue agak baikkan.
“Gimana Ron? Bikin mereka putus gitu?” Tanya gue penasaran.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Tapi gimana caranya Ron?” Tanya gue makin penasaran.
“Lo pura-pura pernah jadian sama Budi, hahahahahaha” Jawab Roni sambil ketawa ngakak.
“Iya mereka putus, tapi gue juga bakal dijauhin sama cewek-cewek dan dideketin sama cowo-cowo homo. Dasar kampret, temen lagi sedih, malah dikerjain.” 
“Lha lo bukannya suka sama cowo Yo.” Kata Roni tambah bikin kesel.
“Itukan dulu.”
“Sekarang?”
“Tetep.”
“Hahahahahahahahaha…” Gue dan Roni ketawa ngakak, sampe-sampe orang-orang ngeliatin kita.
“Eh tapi bener Yo, lo pernah suka cowo?” Tanya Roni masih ngomong nggak jelas.
“Ya kagalah, emang kalo gue suka sama cowo lo mau jadi pacar gue?” Jawab gue nggak kalah stress.
“Ogah, geli gue Yo sama lo.” Jawab Roni.
“Lagi sih lo yang mulai. Nggaklah gue dari dulu suka sama cewe.”
Oh iya, gue lupa ceritain sahabat gue ini. Roni ini asli Bandung. Dia orangnya rada-rada ngeselin. Muka ganteng, putih tapi kuntet alias nggak tinggi ini aslinya banyak yang suka, tapi dia orangnya terlalu memilih. Dia bilangnya sih mau nemenin gue ngejomblo. Awalnya gue percaya aja. Tapi ternyata kemaren dia sempet jadian sama adik kelas. Tapi baru dua hari pacaran dia udah putus, katanya sih terlalu cantik. Lha kenapa nggak dikasih ke gue aja Ron. Eh tunggu dulu, emang dia mau gitu sama gue.
Gue ini orangnya nggak jelek, tapi nggak ganteng juga sih. Tapi yang bikin gue susah punya pacar karena gue nggak berani bilang kalo gue suka sama cewe yang gue suka. Gue lebih sering jadi Secret Admirer, jatuh cinta diam-diam, jadi pemuja rahasia dan nggak jarang cewek yang gue suka udah diembat orang duluan. Malah ada cewek yang gue suka, dia bilang kalo dia suka juga sama gue. Cuma dia bilangnya setelah dia udah jadian sama cowok laen. Sakitnya itu di sini (sambil ngelus-ngelus dada). Mungkin guenya aja terlalu takut dan terlalu lama buat ngomong. Hmm tapi sudahlah mungkin ini udah takdir gue.
Setelah beberapa bulan gue ngelupain Dinda. Akhirnya ada murid baru di kelas gue. Namanya Cinta. Gue tetep diem. Gue memendam perasaan gue sendiri sama cinta. Gue nggak cerita juga sama Roni. Karena Roni kan orangnya agak ngeselin. Bisa-bisa gue diceng-cengin sama dia. Yang ada bukannya jadian. Malah-malah gue jadi jauh sama Cinta.
Cinta ini orangnya cantik, putih, berjilbab. Tingginya kira-kira 153cm, sekitar sebahu guelah. Dia tipe cewe gue banget. Setiap hari gue selalu mencuri-curi pandang ke Cinta. Senyumannya itu loh, manis banget. Dia duduk di depan meja guru, di depan pojok kanan. Sedangkan gue duduk di barisan kedua dari kanan kursi ketiga. Jadi nggak sulit buat gue curi-curi pandang.
Setiap istirahat Cinta selalu pergi ke kantin untuk makan mie ayam favoritnya sambil ngobrol-ngobrol bareng teman-temannya. Dan gue, gue juga sering ke kantin, gue sering duduk dibangku pojokan, di tengah, pokoknya di mana tempat yang pas buat memantau gadis pujaan gue, di sana gue duduk. Emang tersiksa juga sih jadi secret admirer. Tapi kali ini gue bertekad buat berani ngomong sama Cinta kalo gue itu suka sama dia. Kapan? Entahlah! Gue butuh waktu buat ngumpulin keberanian itu.
Lima bulan berlalu, gue masih sering memperhatikan dia seperti itu. Tapi sabtu ini, sepulang sekolah, gue bakal memberanikan diri untuk bilang ke Cinta tentang perasaan gue selama ini.
Gue nggak konsen belajar. Gue ngeliat-liat jam tangan terus, waktu semakin cepat berlalu. Gue terus merangkai kata buat nyatain cinta ke Cinta. Dari “Cinta kamu mau nggak jadi pacar aku?” sampe “Cinta, ukuran sepatu mamahnya adiknya kakak adiknya mamah kamu berapa?”
Gue mulai stress, gue nggak bisa ngerangkai kata-kata yang pas. Tapi tiba-tiba, “teeetttt” bel tanda akhir pelajaran selesai. Temen-temen gue sudah keluar semua. Tinggal gue, Roni dan Cinta yang masih sibuk merapikan tas sekolah.
“Yo, gue duluan ya, haus gue, mau ke kantin dulu. Tar gue pulang agak sorean ya, mau ekskul dulu. Lo pulang duluan aja.” Kata Roni sambil nepuk pundak gue.
“Iya Ron.” Kata gue singkat. “Eh sejak kapan lo ikut ekskul Ron?” Kata gue mulai sadar, karena Roni nggak pernah ikut ekskul.
“Ya sejak sekarang.” Kata Roni sambil cengar-cengir bohong.
“Ah lo mau ngeceng kan, janjian sama cewe kan lo?” Kata gue curiga.
“Hahahaha tau aja lo Yo, yaudah gue duluan ya?” Kata Roni sambil langsung say good bye.
Oh iya gue hampir lupa, gue kan mau ngomong sama Cinta tentang perasaan gue kepada wanita pujaan gue. Cinta. Cinta sudah mulai berdiri mau meninggalkan kelas. Gue langsung bergegas.
“Cintaaaa….!!!” Teriak gue.
“Iya, ada apa Yo?” Jawabnya dengan senyum yang agak dipaksakan karena terlalu lelah.
“Hmm..” Kata gue gugup.
“Kenapa Yo, ngomong aja.” Jawabnya.
“Hmm aku pengen ngomong sesuatu, tapi kamu jangan marah ya?” Kata gue gugup.
Cinta mengerutkan dahinya, “Kenapa, jangan-jangan kamu yang nyuri jemuran aku kemarin siang ya?”
“Eh bukan-bukan!”
“Terus!!”
“Hmm..” Hanya itu yang keluar dari mulut gue.
“Kenapa sih Yo, udah ngomong aja, aku buru-buru nih ada janji.” Jawab Cinta agak kesel, sambil melihat jam tangannya terus.
“Aku suka sama kamu!” Kata gue sambil mengeluarkan nafas lega.
“Hah, kenapa Yo?” Jawab Cinta kaget.
“Kenapa apanya?” Kata gue agak bingung dengan pertanyaan Cinta.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang, disaat aku nggak sendiri? Jujur aku juga suka kamu, tapi sekarang aku sudah ada yang memiliki Yo. Kenapa nggak dari dulu? Kenapa Yo? Padal aku sudah lama nunggu kamu, tapi kamu nggak pernah bilang!” Terang Cinta dengan perasaannya.
“Maafin aku Cin, aku nggak berani bilang.”
“Aku kira kamu nggak pernah suka sama aku, seminggu yang lalu, ada orang yang nyatain perasaannya ke aku, awalnya aku mau nolak, tapi aku pikir lagi. Kenapa aku harus nunggu orang yang nggak pasti suka juga sama aku. Jujur aku selama ini udah nunggu kamu, dan udah sekitar delapan orang yang nyatain perasaannya ke aku, tapi semua aku tolak. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, akhirnya aku berkomitmen, kalo ada orang yang bilang suka ke aku, aku bakal terima dia apa adanya. Tapi aku masih berharap itu kamu Yo. Tapi semuanya sudah terjadi. Sekarang aku sudah tidak akan bisa bersama kamu lagi.” Jelas Cinta.
“Tapi siapa orang beruntung yang bisa miliki kamu Cin?” Tanya gue penasaran bercampur sedih.
“Roni.” Jawab Cinta singkat, dan langsung pergi ninggalin gue sendiri.
“Roni?” Tanya gue dalem hati. “Sahabat gue yang sudah memiliki wanita pujaan gue? Semua emang salah gue yang nggak pernah cerita tentang perasaan gue ke Cinta.” Gue hanya tertunduk lesu. Seolah nggak percaya akan semua yang terjadi.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Hingga akhirnya Roni bilang kalau dia sudah pacaran dengan Cinta. Gue pura-pura nggak tau tentang semua itu, gue hanya tersenyum dan memberikan selamat kepada sahabat gue dan Cinta. Cinta pun seolah tidak terjadi apa-apa, dia hanya tersenyum. Jujur hati gue sakit banget lihat sahabat gue pacaran sama wanita yang selama ini gue cintai. Dan gue nggak akan pernah cerita ke Roni tentang perasaan gue kepada Cinta. Karena gue nggak mau hancurin hubungan mereka.
Beberapa bulan berlalu, hingga akhirnya kita lulus sekolah. Roni mendapat beasiswa di Universitas Gajah Mada. Sedangkan gue dan Cinta kuliah di Universitas Swasta di Jakarta, gue dan Cinta mengambil jurusan Sastra Indonesia. Dan kita juga sekelas. Roni tau itu, hingga Roni menitipkan Cinta ke gue. Andaikan Roni tau tentang perasaan gue. Pasti semua nggak akan seperti ini.
Beberapa bulan berlalu, gue menjadi lebih dekat dengan Cinta. Sering pulang bareng, ngerjain tugas bareng, hingga pernah nonton cuma berdua. Roni nggak pernah curiga sama gue. Gue mulai merasa bersalah. Kedekatan gue dan Cinta gue rasa nggak wajar. Gue sering bilang kangen sama dia, padahal gue hampir tiap hari ketemu. Gue sering pegang tangannya. Gue tau semuanya itu salah. Tapi rasa yang ada dihati gue terus berontak. Gue sayang dia. Gue nggak mau jauh dari dia. Memang semua harapan gue akan sirna. Karna dia akan kembali bersama Roni dikemudian hari.
Disuatu malam gue merenungi semuanya, gue ambil hape gue, gue coba BBM Cinta.
“Cinta” Pesan singkat dari gue.
“Iya Ron, ada apa?” Jawab Cinta.
“Aku sayang kamu (” Bales gue.
“Kenapa?” Jawabnya.
“Sampai kapan ya kita bisa deket kaya gini?”
“Kenapa?”
“Suatu saat kan kamu bakal sama Roni.”
“Itu kan nanti, bukan sekarang kan?”
“Iya sih.”
“Yaudah jangan dipikirain yang nanti itu.”
Hmm gue galau, gue sayang banget sama dia, tapi gue nggak akan selamanya akan dekat dengan dia. Gue putar lagu-lagu di hape gue untuk menghilangkan sedikit rasa galau gue. Hingga giliran lagu “Cinta Terlarang”nya The Virgin yang berputar. Gue terlarut dalam lagu itu.
“Kau kan slalu tersimpan dihatiku, meski ragamu tak dapat ku miliki” Iya, Cinta pasti akan selalu ada dihati gue, walaupun dia nggak akan bisa gue miliki.
“Jiwaku kan slalu bersamamu, meski kau tercipta bukan untukku” Meski dia bukan diciptakan untuk gue, tapi rasa ini akan selalu bersama dia.
“Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi, hanya untuk bersamanya” Andaikan gue bisa kembali ke masa lalu, pasti gue akan langsung nyatakan itu, sebelum dia dimiliki orang lain. Tapi semua itu hanya harapan yang tak akan tercapai.
“Ku mencintainya, sungguh mencintainya” Gue memang cinta dia. Tapi apalah yang bisa gue lakuin.
“Rasa ini sungguh tak wajar, namun ku ingin tetap bersama dia, untuk selamanya” perasaan gue ini memang salah, tapi gue nggak pernah bisa jauh dari dia.
Mungkin semuanya harus seperti lirik lagu Nidji.
Yakinkan aku tuhan dia bukan milikku
Biarkan waktu, waktu hapus aku.
Mungkin biarlah waktu yang menghapus gue dari kehidupannya. Entahlah, semua akan terjadi sampai kapan. Mungkin gue akan menghapus perasaan gue sampai akhir nafas gue.
 
Support : Creating Website | ulwannn Template | Mas Template
Copyright © 2014. Sebuah Kisah Mahasiswa Galau - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger